![]() |
| Candi Arjuna |
Saya kurang tahu akhirnya pesan mobil dimana? yang saya tahu sewa mobil untuk 2 hari (tidak nginap di Dieng, besoknya teman-teman mau jalan-jalan ke Small World dan Lokawisata Baturraden). Biaya sewa mobil + bensin + supir untuk 2 hari Rp. 1.250.000,- Karena saya dan koko hanya ikut hari pertama saja, jadi hanya perlu membayar Rp. 117.000,-/orang. Nanti saya tanyakan teman deh kemarin sewa mobil di mana? Siapa tahu ada yang membutuhkan info sewa mobil Purwokerto ke Dieng. Kalau sudah dapat nanti saya infokan kembali.
Seperti biasa, karena takut "jackpot" dalam perjalanan jadi sebisa mungkin saya usahakan untuk tidur. Pertama kami mampir dulu ke Getuk Goreng Haji Tohirin, Sokaraja yang terkenal itu. Toko-toko Haji Tohirin banyak sekali, ya mungkin aja mereka semua masih family kali ya, anaknya kek, keponakannya kek, sepupunya kek atau siapalah saya juga tak tahu, kami hanya menebak-nebak saja haha.
Sekitar pukul 10.00 kami berhenti makan di Mie Ongklok Longkrang, di Jalan Pasukan Ronggolawe no 14, Longkrang, Wonosobo. Mie Ongklok ini merupakan makanan khas Wonosobo yang membedakan itu bumbunya kental dan menggunakan ebi, isinya sebenarnya hanya mie plus sayuran saja. Biasanya penjual Mie Ongklok menjual sate sapi juga + gorengan, gorengan khas Wonosobo yang saya suka itu tempe kemul. Kemul sendiri merupakan bahasa Jawa yang artinya selimut, jadi tempe kemul itu tempe yang diselimuti tepung, bentuk tepungnya melebar seperti selimut gitu deh, kalau kalian mau ke Dieng, mampirlah kesini, nyobain Mie Ongklok + Sate Sapi + Tempe Kemul.
Untuk harga masih sangat-sangat terjangkau lah, seporsi mie ongklok Rp. 7.500,- untuk seporsi sate Rp. 10.000,- (isi 1 porsi 5 tusuk), Tempe Kemul Rp. 1.000,/pcs, Minum Es Teh Manis Rp. 3.000,-. Perut sudah kenyang kami pun melanjutkan perjalanan ke Dieng.
Seperti biasa, karena takut "jackpot" dalam perjalanan jadi sebisa mungkin saya usahakan untuk tidur. Pertama kami mampir dulu ke Getuk Goreng Haji Tohirin, Sokaraja yang terkenal itu. Toko-toko Haji Tohirin banyak sekali, ya mungkin aja mereka semua masih family kali ya, anaknya kek, keponakannya kek, sepupunya kek atau siapalah saya juga tak tahu, kami hanya menebak-nebak saja haha.
Sekitar pukul 10.00 kami berhenti makan di Mie Ongklok Longkrang, di Jalan Pasukan Ronggolawe no 14, Longkrang, Wonosobo. Mie Ongklok ini merupakan makanan khas Wonosobo yang membedakan itu bumbunya kental dan menggunakan ebi, isinya sebenarnya hanya mie plus sayuran saja. Biasanya penjual Mie Ongklok menjual sate sapi juga + gorengan, gorengan khas Wonosobo yang saya suka itu tempe kemul. Kemul sendiri merupakan bahasa Jawa yang artinya selimut, jadi tempe kemul itu tempe yang diselimuti tepung, bentuk tepungnya melebar seperti selimut gitu deh, kalau kalian mau ke Dieng, mampirlah kesini, nyobain Mie Ongklok + Sate Sapi + Tempe Kemul.
Untuk harga masih sangat-sangat terjangkau lah, seporsi mie ongklok Rp. 7.500,- untuk seporsi sate Rp. 10.000,- (isi 1 porsi 5 tusuk), Tempe Kemul Rp. 1.000,/pcs, Minum Es Teh Manis Rp. 3.000,-. Perut sudah kenyang kami pun melanjutkan perjalanan ke Dieng.
![]() |
| Mie Longkrang, Jl. Pasukan Ronggolawe No 14, Longkrang, Wonosobo |
![]() |
| Makanan sudah habis |
![]() |
| Mie Ongklok |
Waktu masuk kawasan Dieng kami diminta untuk membayar restribusi, Rp. 5.000,- per mobil. Sama ketika masuk kawasan Baturraden, Purwokerto dan Kaliurang, Jogja juga sama aja di pintu kawasan diminta bayar restribusi gitu. Dari pintu kawasan ternyata masih jauh perjalanannya. Cuaca mulai tak bersahabat, awan tebal dan sedikit gelap menemani perjalanan kami. Oiya jalan menuju Dieng tak selebar jalan puncak Bogor maupun jalan puncak Baturraden lho. Pak Supir menanyakan ini mau kemana dulu, Pak Adi ST bilang terserah Bapak saja, kami belum pernah ke Dieng, jadi mau dibawa kemana aja kami nurut, akhirnya tujuan pertama ke Candi Arjuna. Dalam perjalanan ke Candi Arjuna kaca mobil kami buka, tiba-tiba bau srenggg kami pikir itu bau terasi, tapi Pak Supir bilang bukan ini bau pupuk kandang, hahahaha dugaan kami salah. Sekitar Pukul 11.40 kami tiba, gerimis kecil ketika kami turun dari mobil. Tiket masuk disini dijual sudah terusan dengan Kawah Sikidang, tapi untuk ke Kawah harus menggunakan mobil, karena lokasi Candi Arjuna dan Kawah Sikidang tidak dalam satu lokasi, kata orang si 15 menit perjalanan dengan mobil untuk ke Kawah Sikidang. Harga Tiket masuk Candi Arjuna + Kawah Sikidang Rp. 15.000,-/orang untuk turis lokal sementara untuk turis mancanegara RP. 30.000,-/orang. Nggak lama setelah kami masuk hujan tambah deras dan kami pun berteduh. Di sana ada seperti Saung yang cukup lebar, di Saung itu ada anak-anak SD yang sedang Study Tour.
Setelah hujan reda kami melanjutkan perjalanan ke Museum Kailasa. Pas mau beli tiket masuk ternyata lagi istirahat, kami menunggu bentar (mungkin yang jaga lagi makan siang kali ya??). Pas kami ke Museum ini, tergolong sepi lho, yang masuk cuma kami aja, emang kata petugasnya sekarang jarang ada yang mau ke Museum, karena dianggapnya kurang menarik. Tiket masuk Museum Kailasa Rp. 5.000,-/orang kalau turis mancanegara entahlah tak tahu saya karena tidak ada daftar harga tiket masuknya. Oya harga tiket tersebut sudah termasuk nonton teater selama +- 10 menit tentang sejarah Dieng. Dari kita beli tiket itu sebelah kanan ada bangunan persegi disitu hanya ada arca-arca, entah karena apa ada beberapa arca yang kepalanya tidak ada, lalu kami masuk ke sebelah kiri dari kita beli tiket, ketika kami masuk sini, penjaga tiket yang jual tadi menemani kami masuk dan menerangkan mulai dari peresmian Museum Kailasa ini Oleh Jero Wacik pada tanggal 28 Juli 2008 yang kala itu Beliau menjabat sebagai Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. Kailasa sendiri berarti tempat yang Suci atau Disucikan (kalau nggak salah inget artinya itu). Di Dieng masih ada ritual pemotongan rambut gimbal yang biasa diadakan setahun sekali, tapi saya lupa tanya setiap kapan? katanya anak yang rambut gimbal harus dituruti dulu permintaannya biar sesudah dipotong rambut gimbalnya nggak tumbuh gimbal lagi, dan uniknya ini bukan turunan. Pernah ada anak minta telur 5 butir tapi cuma dikasi 3 butir setelah dipotong ya tetap tumbuh rambut gimbal. Permintaan anak bermacam-macam ada yang minta kesenian tradisional seperti pertunjukkan barongan, kuda lumping, ada yang minta telur, dll, rata-rata anak meminta yang orang tuanya bisa mewujudkannya. Dieng berasal dari kata "Di" (berarti tempat atau gunung) dan "Hyang" (berarti Dewa), jadi dengan demikian Dieng berarti tempat bersemayam para dewa atau dewi. Tradisi Jawa dan Indonesia pada umumnya menganggap gunung dan tempat-tempat tinggi sebagai tempat suci. Setelah kami berkeliling Museum, pas keluar hujan lagi, akhirnya kami menghangatkan badan dulu, ada yang pesan kopi ada yang pesan jahe. Saya beli topi + syal kecil sepasang Rp. 35.000,- akhirnya beli 2 pasang dengan Bu Alay dikasi harga Rp. 30.000,- /pasang (saya sengaja carinya yang nggak ada tulisan Dieng biar bisa dipake kemana aja) menurut saya harga segitu murah, dulu saya pernah beli topi rajut di Bogor harganya seinget saya Rp. 25.000,- pas itu beli di Brasco Factory Outlet, Bogor.
![]() |
| Museum Dieng Kailasa |
![]() |
| Salah satu arca yang kepalanya tak ada, entah karena apa??? |
![]() |
| Peresmian Museum Kailasa Oleh Jero Wajik, Men Bud Par, 28 Juli 2008 |
![]() |
| Ciri-ciri orang asli Dieng itu pake kupluk dan sarung |
![]() |
| Rambut Gimbal / Rambut Gembel |
![]() |
| Barongan Macan |
![]() |
| Cara Candi dibangun (tanpa semen) |
![]() |
| tempe kemul dan cabe rawitnya besar-besar |
![]() |
| Nyobain topi rajut |
![]() |
| Ngopi dulu di seberang Museum Kailasa |
![]() |
| jadi inget film tentang Gorila |
![]() |
| Tatapan burung hantu tajam |
![]() |
| klenteng Hok Hoo Bio |
![]() |
| Misa Dipersembahkan Oleh Romo Doni |
![]() |
| Roti bentuk ikan menarik perhatian saya |
![]() |
| walaupun di emperan, tapi rasanya nikmat, ngantri |
1. Urunan transportasi Purwokerto - Dieng PP Rp. 117.000,-
2. Mie Ongklok Rp. 7.500 + Es Teh Manis Rp. 3.000 + 1 Tempe Kemul Rp. 1000,
3. Masuk Candi Arjuna & Kawah Sikidang Rp. 15.000,-
4. Beli 5 tempe kemul di Candi Arjuna Rp. 5.000,-
5. Masuk Museum Kailasa Rp. 5.000,-
6. Kopi di depan Museum Kailasa Rp. 5.000,-
7. Topi rajut & syal Rp. 30.000,-
8. Ayam Penyet Lombok Ijo di Red Cobek Rp. 8.000,- Nasi Putih Rp. 4.000,- Jeruk Manis Hangat Rp. 5.000,-
9. Roti di Gereja mereknya Lulu Bakery and Resto saya beli 5 Total Rp. 27.000,- (roti sosis harganya Rp. 6.000,- roti lain harganya Rp. 5.000,-) sedih saya belum sempat makan rotinya sudah habis dimakan adik saya. ya sudahlah
10. Mie Godog (Mie Kuah) Situmpur Rp. 16.000,- saya minumnya teh tawar gratis
Total biaya Rp. 248.000,- tapi sebagian besar biaya saya dibayarin Ko Toni, makasih banyak ko, untuk kopi juga malah dibayarin Pak Eddy, terima kasih juga Pak Eddy.
Terima kasih untuk kebersamaannya hari ini teman-teman. Lain kali kalau ada kesempatan bolehlah kita jalan-jalan lagi.






















